Terkait Dugaan Penembakan Terhadap Warga OAP, Simak Ungkapan Warinussy

TIFACENDERAWASIH.com – Penembakan manusia Orang Asli Papua (OAP) dengan dalih “terlibat” Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB) terus berulang terjadi di wilayah Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua dalam kurun waktu 2 (dua) bulan terakhir ini, hal ini di sampaikan Yan C Warinussy melalui rilisnya kepada media ini, (28/10).

Setelah Pendeta Yermias Zenambani “diduga” tewas akibat terjangan timah panas dari bedil aparat TNI belum lama ini.

“Senin, 26/10/2020 di saat umat Kristiani di dunia sedang hendak merayakan Hari Jadi ke-64, Gereja terbesar di Tanah Papua, yaitu Gereja Kristen Injili (GKI). Pada Subuh sekitar pukul 05:30 wit, bertempat di Kampung Jilai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua, berlangsung sebuah operasi gabungan TNI-Polri.

“Operasi yang menurut Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel CZI IGN Suriastawa menyerang salah satu markas KKSB di kampung Jalar, Distrik sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua, dan menewaskan seorang anggota KKSB bernama Rubinis Tigau,Ternyata dibantah habis oleh banyak pendapat kontra, termasuk pihak Gereja Katolik Keuskupan Timika,”ujar Yan.

Intinya lanjut Warinussy bahwa yang menjadi korban tertembak oleh personil TNI tersebut sesungguhnya adalah Rupinus Tigau.

“Tigau adalah seorang pewarta (katekis) Gereja Katolik, State (Stasi) Jalae, Paroki Biogai, Keuskupan Timika. Apalagi bantahan Gereja Katolik diserta foto aktivitas almarhum korban Rupinus Tigau semasa hidupnya serta bukti saksi-saksi yang melihat langsung kejadian dan fakta,”katanya.

Sedangkan keterangan Kolonel Suriastawa timpa Yan, yang dikutip media bahwa jenasah Tigau sudah dimakamkan beberapa saat setelah kejadian penembakan Senin, 26/10 tersebut.

“Sebagai Advokat dan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) peraih penghargaan internasional John Humphrey Freedom Award Tahun 2005 di Canada, saya mendesak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk memerintahkan ditariknya serta dibekukannya seluruh operasi militer bernama Kogabwilhan III di Tanah Papua dalam 24 jam ke depan,”tegasnya.

“Yang menjadi alasan, karena terbukti operasi tersebut telah menimbulkan sejumlah korban rakyat sipil OAP tidak berdosa, seperti Eden Bebari dan Roni Wandik di Mile 43 Tembagapura, Pendeta Yermias Zenambani di Sugapa, Intan Jaya serta Duwitau di Nduga dan kini Rupinus Tigau juga di Sugapa, Intan Jaya, Papua,”ungkap Warinussy.

“Presiden Jokowi sebagai Kepala Negara dan Panglima TNI atas nama hukum dan keadilan dapat memerintahkan dibekukannya segenap kegiatan operasi keamanan yang menyengsarakan rakyat Papua sebagai sesama Anak Bangsa demi integrasi politik nasional Indonesia,”ujar Yan.

“Menurut saya sudah saatnya Gereja Katolik Keuskupan Timika bersuara kepada Paus Johanes Paulus di Tahta Suci Vatikan terhadap serangan yang terus berlangsung dan diduga akan kembali berulang terhadap para pekerja lapangan Gereja di berbagai pos pelayanan di wilayah pedalaman Papua hari lepas hari ke depan,”pintanya.

“Seruan dan pernyataan Badan Pekerja Am Sinode GKI di Tanah Papua pada perayaan HUT ke-64 bahwa Damai Itu Mahal makin terbukti dengan terjadinya penembakan yang keji dan tidak bertanggung-jawab terhadap Katekis Gereja Katolik Keuskupan Timika almarhum Rupinus Tigau ini,”timpanya.

Lanjut Warunussy, Saya mendorong Presiden Jokowi untuk memberi akses utama dan pertama kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM RI) untuk menyelidiki dan mengungkap perbuatan tidak berperikemanusiaan yang menimpa almarhum Rupinus Tigau tersebut sebagai sebuah Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (crime againts humanity) sebagai dimaksud dalam UU No.26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM.

(Richard)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here