Berikut, Rentetan Fakta Persidangan Kasus Terbunuhnya Anggota Brimob Bintuni

TC-Manokwari – Sidang lanjutan perkara pidana dengan dakwaan pembunuhan anggota Brimob Bintuni pada 15 April 2020 di Pengadilan Negeri (PN) Manokwari menguak fakta bahwa perusahaan logging PT.Wana Galang Utama (WGU) telah meminta pengamanan dari Markas Komando Brimob di Bintuni.

Hal itu terungkap dari keterangan saksi Frengky Lumban Toruan (anggota Brimob Bintuni dalam lanjutan sidang dengan terdakwa Frans Aisnak dan Pontius Wakom, Jum’at (18/9) di Pengadilan Negeri (PN) Manokwari.

Ketika dicecar dengan pertanyaan oleh salah satu Penasihat Hukum kedua Terdakwa, Simon Banundi dari LP3BH Manokwari,mengenai permintaan kehadiran petugas Pengamanan dari Brimob, “apakah situasi di sekitar areal konsesi dan base camp PT.WGU itu termasuk wilayah rawan keamanan atau tidak?” tanya Banundi. Saksi Lumban Toruan menjawab”ah tidak, daerah tersebut (maksudnya : wilayah kerja PT.WGU dan base camp ya) aman saja.”

Hal itu menyebabkan korban Briptu Mesak Viktor Pulung dibekali senjata jenis AK 101 dengan nomor seri 01118-3745 dengan amunisi berupa 3 (tiga) megasen. “3 (tiga) megasen itu terdiri dari 1 (satu) megasen berbentuk protap berisi 17 peluru karet dan 3 (tiga) peluru hampa. Serta 2 (dua) megasen lainnya berisi 60 butir peluru tajam,” terang saksi Lumban Toruan.

Sedangkan anggota yang ditugaskan sebagai petugas keamanan di base camp PT. WGU tersebut saat itu terdiri 2 (dua) personil, yaitu korban Briptu Mesak Viktor Pulung dan rekannya Briptu Mochtar Sangaji. Pada saat kejadian (15/4), Briptu Mochtar Sangaji sedang bertugas mengawal pembelian dan pengangkutan bahan makanan (Bama) di Bintuni.

Hal ini diterangkan oleh saksi Alfian Luihala dan saksi Gerson Lesilolo dalam sidang Jum’at (18/9) lalu di PN.Manokwari.

Kedua anggota Brimob tersebut menurut keterangan saksi Alfian dan saksi Gerson, keduanya baru bertugas sekitar 4 (empat) hari saja di lokasi kerja PT.WGU, lalu terjadi musibah yang menewaskan korban Mesak Viktor Pulung tersebut.

Saksi Alfian yang berada di lokasi kejadian “terbunuhnya” korban anggota Brimob tersebut sama sekali tidak melihat orang lain di sekitar base camp saat itu.

Bahkan ketika dicecar pertanyaan Advokat Karel Sineri tentang keberadaan terdakwa Frans Aisnak, saksi Alfian menerangkan dia hanya melihat Terdakwa Frans Aisnak di base camp pada tanggal 14 April 2020 sekitar jam 10:00 wit saja.

“Pada malam saat kami dikumpulkan oleh saksi Ir.Freddy Serang usai mengetahui tewasnya almarhum, saya sama sekali tidak melihat Frans Aisnak di base camp”, jelas Saksi Alfian di depan sidang secara virtual dari Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Bintuni.

Sementara mengenai keseharian terdakwa Frans Aisnak, di saksi Alfian mengatakan terdakwa Frans Aisnak, orangnya pendiam dan tidak banyak berbicara. Bahkan saksi tidak melihat ada hal-hal yang mencurigakan dari gerak gerik terdakwa Frans Aisnak sebelum kejadian tersebut.

Sedangkan mengenai Terdakwa Pontius Wakom, saksi tidak mengenalnya dan saksi juga tidak pernah melihat Terdakwa Pontius Wakom hadir di base camp PT.WGU sebelum peristiwa kematian anggota Brimob Mesak Viktor Pulung tersebut.

“Sebagai Penasihat Hukum Terdakwa Frans Aisnak dan Terdakwa Pontius Wakom, kami akan mengikuti dan menyimak serta menganalisa dengan baik keterangan ketiga saksi yang sudah diajukan saudara Jaksa Penuntut Umum (JPU),”terang Yan.
Sebab lanjutnya,masih ada sekitar 8 (delapan) orang saksi lagi sesuai berkas perkara kedua terdakwa, termasuk penyidik kedua terdakwa yang juga tercatat sebagai saksi dan saling memeriksa diri mereka dalam berkas perkara kedua klien kami.

“Dan sidang lanjutan kedua klien kami dengan agenda pemeriksaan saksi dari JPU akan dilaksanakan hari Kamis, 24 September 2020 mendatang di PN.Manokwari,”tutup Warinussy.

(Richard)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here