Renungan Paskah untuk Orang Mee: APAKAH KITA “HANYA” MAKLUK POLITIK?

Oleh: Yakobus Odiyaipai Dumupa

TIFACENDERAWASIH,- Sepertinya berpolitik tidak hanya menjadi urusan orang-orang yang berpendidikan politik. Berpolitik juga tidak hanya menjadi urusan para politisi. Orang-orang yang tidak berpendidikan politik pun berperilaku seperti “profesor” politik ketika berhadapan dengan urusan-urusan politik. Rupanya benar filsuf Aristoteles menyebut manusia sebagai “Zoon Politicon”.

Coba lihat faktanya. Kebanyakan sarjana ekonomi tidak fokus pada urusan perekonomian, tetapi lebih sibuk dengan urusan politik. Beberapa sarjana theologi/sarjana agama tidak fokus pada urusan theologi/keagamaan, tetapi lebih sibuk dengan urusan politik. Kebanyakan sarjana pendidikan tidak fokus pada urusan pendidikan, tetapi lebih sibuk dengan urusan politik. Kebanyakan sarjana kesehatan masyarakat tidak fokus pada urusan kesehatan, tetapi lebih sibuk dengan urusan politik. Begitu pula dengan sarjana yang lainnya, bahkan kebanyakan orang yang awam dengan politik pun lebih sibuk dengan urusan politik.

Lihat juga fakta lainnya. Pembahasan dan diskusi di media sosial kebanyakan terkait dengan hal-hal politik. Kebanyakan isu atau berita bohong (hoax) yang beredar di masyarakat adalah hal-hal politik. Topik obrolan di rumah, pasar, kantor, dan tempat lainnya adalah hal-hal politik. Banyak liputan media massa yang hanya terkait hal-hal politik.

Karena hampir semua kita “sibuk” dengan politik, maka kita melupakan bidang lainnya. Kita hanya mau menjadi “penguasa politik”, sehingga kita tidak menjadi “penguasa ekonomi”, “penguasa pendidikan”, “penguasa keagamaan”, “penguasa kesehatan”, “penguasa kebudayaan”, dan lainnya. Wajar kita ketinggalan dalam bidang-bidang lainnya, sekalipun kita memegang kekuasaan politik.

Sekarang sudah waktunya, hal politik menjadi urusan para sarjana politik dan para politisi saja, Sarjana ekonom dan pelaku ekonomi fokus pada urusan perekonomian, Para theolog fokus pada urusan theologi, Para pendidik fokus pada urusan pendidikan, Para antropolog dan pelaku adat dan budaya fokus pada urusan adat dan kebudayaan, Para sarjana kesehatan masyarakat dan pelaku kesehatan masyarakat fokus pada urusan kesehatan masyarakat, Para pegawai negeri sipil fokus pada urusan pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat, Para palajar dan mahasiswa fokus pada proses pendidikan dan pembelajaran, Begitu juga pada bidang-bidang lainnya.

Kita harus belajar dari kehadiran dan sikap YESUS. Oleh orang Yahudi, kehadiran YESUS dulu dianggap dan diharapkan menjadi “Raja Orang Yahudi” atau “Raja Israel” yang memegang kekuasaan politik yang akan memimpin dalam melawan, mengalahkan, dan mengusir penjajah Romawi yang menduduki Tanah Israel. Tetapi YESUS menolak anggapan dan harapan itu dan fokus pada tujuan kedatangan-Nya secara theologis, yakni mewartakan Firman Allah dan menyelamatkan umat manusia dari dosa, Ia tahu diriNYA bahwa Ia bukan “makluk politik”.

Dengan belajar dari YESUS, bisakah kita masing-masing fokus pada bidang sesuai dengan pendidikan dan kemampuan kita? Selain hanya menjadi “makluk politik”, bisakah kita menjadi “makluk ekonomi”, “makluk pendidikan”, “makluk kesehatan”, “makluk agama”, “makluk kebudayaan” dan makluk lainnya? Jika jawabannya adalah bisa, pertanyaanya adalah kapan? Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang hanya menang dan bergaya di bidang politik, tetapi menjadi orang-orang yang kalah total dan tidak berdaya di bidang-bidang lainnya.

Selamat Paskah, Alleluia.

(TC-Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here