Terkait Surat Rekomendasi Perjalanan, Warinussy : BPBD Prov Papua Barat dan Gugus Tugas Penanganan COVID 19 Provinsi Harus Menyelesaikan Masalah Ini

TC,- Pagi Tadi, Warinussy ke bandar udara Rendani hendak mengantar keponakannya berangkat dengan penerbangan Susi air ke Biak melalui Numfor, Dalam perjalanan ke terminal bandara, Warinussy (kami) sempat singgah ke sebuah gedung panjang yang terletak di dekat halaman parkir depan seberang jalan terminal Bandara Rendani. Saat itu jam 06:20 wit, beberapa ruangan yang seringkali terdapat kegiatan pelayanan rapid antigen dan administrasi rekomendasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Provinsi Papua Barat terlihat masih tertutup rapat,”kata warinussy kepada awak Media (27/02)

“Didepan pada sebuah tenda yang dibuka, nampak ada sejumlah orang yang mungkin menunggu pelayanan sedang berdiri menunggu dilayani oleh petugas rapid antigen dari salah satu laboratorium swasta dan petugas-petugas dari BPBD Provinsi Papua Barat.

“Karena situasi seperti itu, maka saya memutuskan mengantar kedua keponakan saya langsung ke terminal dan kami ke meja Susi Air untuk lapor tiket dan menimbang barang bawaan maupun berat badan kedua anak keponakan saya ini,” ujarnya.

“Kami dilayani oleh petugas Susi air hanya berbekal tiket yang sudah dibeli sejak Selasa lalu dan surat pemeriksaan SWAB RAPID ANTIGEN COVID-19 dan surat keterangan dari klinik Papua Medika,” tuturnya.

Kedua keponakan saya diberi boarding pass dan kami kembali keluar untuk mencari sarapan pagi. Saat tadi kami masuk maupun keluar dari ruang check in bandara Rendani, nampak ruang pelayanan pemberian surat rekomendasi BPBD di seberang jalan dari terminal Rendani masih tertutup.

Bahkan tempat pelayanan validasi rapid anti gen di depan terminal bandar udara Rendani juga belum ada petugasnya,”jelasnya.

Cukup mengherankan memang. Sekitar jam 07:30 wit, baru nampak ruang pelayanan rekomendasi di seberang jalan dari terminal Bandara Rendani buka.

Saya kemudian membawa hasil rapid test antigen kedua ponakan dan berjalan menyeberangi jalan ke arah tempat pelayanan rekomendasi. Disana saya mendapati ada perbincangan agak hangat antara beberapa orang bapak yang kelihatannya berasal dari luar Papua Barat dengan petugas pelayanan. “Pak kami mau nanya ini kita disuruh harus bikin rekomendasi untuk apa ? Kami kan mau kembali ke daerah asal kami?,” Tanya seorang bapak berperawakan tinggi besar berbaju kaos warna hitam dan celana jeans warna kehitaman juga kepada salah satu petugas.

“Saya kemudian memberi surat rapid test kedua keponakan saya kepada seorang petugas dan dia membuat rekomendasi atas nama kedua keponakan ini untuk perjalanan udara ke Biak. Saya memperoleh surat rekomendasi tersebut, tapi bapak-bapak tadi tidak mau mengurus rekomendasi dan mereka menuju ke tempat pelayanan validasi rapid anti gen di terminal bandara Rendani,” katanya.

“Saya membawa surat rekomendasi bersama hasil rapid test kedua keponakan saya ke petugas di loket pelayanan nomor 4. Saya sangat heran, karena petugas di loket mengembalikan surat rekomendasi yang tadi saya harus menunggu sekitar 5 (lima) menit disiapkan,” ujarnya.

Sama sekali petugas ini tidak memberi komentar apapun saat mengembalikan surat rekomendasi dan dia hanya memeriksa dan membuat cap stempel validasi pada surat hasil rapid antigen kedua keponakan saya dan memberi tanggal lalu menandatanganinya dan mengembalikannya kepada saya.

“Sementara itu, para bapak-bapak tadi sedang bersitegang dan menanyakan alasan maupun aturan mengenai harus membuat rekomendasi bagi setiap penumpang pesawat terbang dari Manokwari ke luar Provinsi Papua Barat. Mereka terlihat “menyerang” petugas di loket sebelah saya dengan pertanyaan : “pak, tolong beri alasan ke kami kenapa kami mau balik ke Surabaya atau Jakarta harus pakai rekemendasi dari BPBD Papua Barat? Ini rekomendasi juga tidak punya manfaat apa-apa kok?”, Jelas salah seorang kepada petugas di dalam loket.

Pemandangan yang saya lihat petugas di dalam loket kemudian memvalidasi hasil rapid antigen mereka, tapi kepada penumpang lain tetap dimintanya untuk mengurus surat rekomendasi dahulu.

“Saya beberapa kali melakukan perjalanan ke Jayapura, Papua dengan pesawat terbang dari bandara Rendani-Manokwari dan membuat rekomendasi, tapi justru yang divalidasi cuma hasil test rapid antigen saya saja. Demikian juga saat bersidang di Jakarta beberapa waktu lalu,” tandasnya.

“Surat rekomendasi tidak diutak-atik sama sekali oleh petugas validasi di bandara Rendani. Pertanyaan saya, lalu apa gunanya kita membuat rekomendasi tersebut;? Toh sesampainya kita di Jayapura, Jakarta atau Sorong, surat rekomendasi tersebut sama sekali tidak diperiksa atau minimal ditanyakan sedikitpun oleh petugas validasi di bandara setempat ?,” kata Yan dengan nada tanya.

“Menurut saya, pimpinan BPBD Provinsi Papua Barat atau Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Manokwari, Papua Barat mesti meng-clear-kan hak ini segera. Jangan terkesan dibiarkan untuk menjadi topik “debat kusir” antara petugas pelayanan di bandara Rendani dengan para calon penumpang hingga menimbulkan hal-hak yang tidak diinginkan bersama ke depan,” pungkas Warinussy.

(RV)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here