Mendagri Keluarkan Instrusksi Mengenai PPKM Mikro dan Pembentukan Posko Covid 19 Tingkat Desa dan Kelurahan

TC,- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengeluarkan Instruksi Mendagri (Inmendagri) tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro dan Pembentukan Posko Penanganan Corona Virus Disease 2019 di Tingkat Desa dan Kelurahan untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 pada tanggal 5 Februari 2021.

Inmendagri dikeluarkan dalam rangka menindaklanjuti arahan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang menginstruksikan agar kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk diperpanjang dengan berbasis mikro dan membentuk Posko Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di level Desa dan Kelurahan.

Untuk itu, Tito menginstruksikan kepada seluruh gubernur se-Jawa dan Bali beserta bupati/wali kota untuk mengatur PPKM yang berbasis mikro (PPKM Mikro) di wilayah masing-masing.

“Mengatur PPKM yang berbasis mikro yang selanjutnya disebut PPKM Mikro sampai dengan tingkat Rukun Tetangga (RT)/Rukun Warga (RW) yang berpotensi menimbulkan penularan COVID-19,” bunyi instruksi Mendagri diktum kesatu.

Selain kepada para gubernur, dalam diktum kesatu juga disebutkan, instruksi ini juga ditujukan kepada para bupati/wali kota dengan prioritas wilayah, yaitu di Jawa Barat adalah Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Cimahi, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, dan wilayah Bandung Raya.

Untuk Banten, yaitu wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan. Jawa Tengah meliputi Semarang Raya, Banyumas Raya, Kota Surakarta, dan sekitarnya.

Kemudian Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Kulon Progo.

Jawa Timur dengan prioritas wilayah Surabaya Raya, Madiun Raya, dan Malang Raya. Terakhir, Bali dengan prioritas wilayah Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Tabanan, Kota Denpasar, dan sekitarnya.

Tito mengatakan, para gubernur dapat menambahkan prioritas wilayah pembatasan sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah dan memperhatikan cakupan pemberlakuan pembatasan.

Ditegaskan Mendagri pada diktum kedua, PPKM Mikro dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria zonasi pengendalian wilayah hingga tingkat RT.

Untuk wilayah Zona Hijau, tidak ada kasus COVID-19 di satu RT, maka skenario pengendalian dilakukan dengan surveilans aktif, seluruh suspek dites dan pemantauan kasus tetap dilakukan secara rutin dan berkala.

“Zona Kuning, jika terdapat 1-5 rumah dengan kasus konfirmasi positif dalam 1 RT selama 7 hari terakhir, maka skenario pengendalian adalah menemukan kasus suspek dan pelacakan kontak erat, lalu melakukan isolasi mandiri untuk pasien positif dan kontak erat dengan pengawasan ketat,” instruksi Tito.

Zona Oranye, jika terdapat 6-10 rumah dengan kasus konfirmasi positif dalam satu RT selama 7 hari terakhir, maka skenario pengendalian adalah menemukan kasus suspek dan pelacakan kontak erat, lalu melakukan isolasi mandiri untuk pasien positif dan kontak erat dengan pengawasan ketat, serta menutup rumah ibadah, tempat bermain anak, dan tempat umum lainnya kecuali sektor esensial.

Sementara pada Zona Merah, jika terdapat lebih dari 10 rumah dengan kasus konfirmasi positif dalam satu RT selama 7 hari terakhir, maka skenario pengendalian adalah pemberlakuan PPKM tingkat RT yang mencakup 6 hal.

Yaitu, menemukan kasus suspek dan pelacakan kontak erat; melakukan isolasi mandiri/terpusat dengan pengawasan ketat; serta menutup rumah ibadah, tempat bermain anak dan tempat umum lainnya kecuali sektor esensial.

Juga melarang kerumunan lebih dari tiga orang; membatasi keluar masuk wilayah RT maksimal hingga Pukul 20.00; serta meniadakan kegiatan sosial masyarakat di lingkungan RT yang menimbulkan kerumunan dan berpotensi menimbulkan penularan.

Pengaturan lebih lanjut hal-hal sebagaimana dimaksud akan diatur oleh Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Nasional.

“PPKM Mikro dilakukan melalui koordinasi antara seluruh unsur yang terlibat, mulai dari Ketua RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), Bintara Pembina Desa ( Banbinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat ( Bhabinkamtibmas), Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP), Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga ( PPK), Pos Pelayanan Keluarga Berencana Kesehatan Terpadu ( Posyandu), Dasawisma, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Penyuluh, Pendamping, Tenaga Kesehatan, Karang Taruna serta relawan lainnya,” dituangkan dalam diktum ketiga Inmendagri 3/2021.

Pada diktum keempat disebutkan mekanisme koordinasi, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan PPMK Mikro dilakukan dengan membentuk Pos Komando ( Posko) tingkat desa dan kelurahan. Untuk supervisi dan pelaporan posko tingkat desa dan kelurahan dibentuk Posko Kecamatan.

Posko tingkat desa dan kelurahan sebagaimana dimaksud adalah lokasi atau tempat yang menjadi posko penanganan COVID 19 ditingkat desa dan kelurahan yang memiliki empat fungsi ;
a. Pencegahan.
b. Penanganan
c. Pembinaan dan
d. Pendukung pelaksanaan penanganan ditingat desa dan kelurahan, bunyi diktum kelima.

Dalam melaksanakan empat fungsi tersebut ditegaskan dalam diktum keenam, Posko tingkat desa dan kelurahan berkoordinasi dengan SATGAS COVID 19 tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, TNI, POLRI, dan disampaikan ke Satgas Covid 19 Nasional, Kementerian Kesehatan ( Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Sesuai diktum ketujuh, kebutuhan pembiayaan dalam pelaksanaan Posko tingkat desa dan Kelurahan COVID 19 dibebankan kepada anggaran masing masing unsur Pemerintah sesuai dengan pokok kebutuhan.

Disebutkan,kebutuhan ditingakat desa dibebankan pada Dana Desa dan dapat didukung oleh sumber pendapatan desa lainnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ( APBDdes). Kebutuhan ditingkat kelurahan dibebànkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota.

Sementara kebutuhan terkait Babinsa/Bhabinkamtibmas dibebankan pada Anggaran TNI-POLRI. Untuk kebutuhan terkait testing, tracing dan treatment dibebankan kepada anggaran Kementerian Kesehatan atau BNPB, APBD Provinsi/Kabupaten/Kota.

Kebutuhan terkait dengan bantuan kebutuhan hidup dasar dibebankan kepada Anggaran Badan Urusan Logistik (BULOG)/ Kementerian BUMN, Kementerian Sosial, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Keuangan serta APBD Provinsi/Kabupaten/Kota.

“Posko tingkat desa diketuai oleh Kepala Desa, yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh aparat desa dan mitra desa lainnya, dan Posko tingkat kelurahan diketuai oleh Lurah yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh aparat kelurahan dan kepala masing masing posko baik posko tingkat desa maupun posko tingkat kelurahan juga dibantu oleh Satlinmas, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan tokoh masyarakat, ketentuan diktum kedelapan.

Pada diktum kesembilan disbutkn, PPKM Mikro dilakukan bersamaan dengan PPKM Kabupaten/Kota.

Disebutkan juga,ketentuan PPKM meliputi, membatasi tempat kerja/perkantoran dengan menerpakan Work From Home (WFH) sebesar 50 persen dan Work From Office sebesar 50 persen dengan memberlakukan protokol kesehatan lebih ketat.
Kemudian melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring/online.

Untuk sektor esensial seperti kesehatan, bahan pangan, makanan, minuman, energi, komunikasi, dan teknologi informasi, keuangan, perbankan, sistem pembayaran, pasar modal, logistik, perhotelan, konstruksi, industri strategis, pelayanan dasar, utilitas publik, dan industri yang ditetapkan sebagai obyek vital nasional dan obyek tertentu, kebutuhan sehari hari yang berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat tetap dapat beroperasi 100 persen dengan pengaturan jam operasional, kapasitas dan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Selanjutnya, melakukan pengaturan pemberlakuan kegiatan restoran (makan/minum ditempat sebesar 50 persen dan untuk layanan pesan – antar/ dibawa pulang tetap diizinkan sesuai dengan jam operasional restoran dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.
Sementara pembatasan jam operasional untuk pusat perbelanjaan/ mall sampai dengan pukul 21:00 dengan penerapan protoko kesehatan yang lebih ketat.

Ketentuan selanjutnya mengizinkan kegiatan konstruksi beroperasi 100 persen dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Sementara untuk tempat ibadah diizinkan untuk tetap beroperasi dengan pembatasan kapasitas 50 persen dan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Kegiatan fasilitas umum dan kegiatan sosial budaya yang dapat menimbulkan kerumunan diberhentikan sementara serta dilakukan pengaturan kapasitas dan jam operasional transportasi umum.

Pada diktum kesepuluh disebutkan cakupan pengaturan pemberlakuan pembatasan dilakukan pada provinsi dan kabupaten/kota yang memenuhi unsur tingkat kematian diatas rata-rata tingkat kematian nasional, tingkat kesembuhan diatas rata-rata tingkat kesembuhan nasional, tingkat kasus aktif diatas rata-rata tingkat kasus aktif nasional; dan serta tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit ( Bed Occupancy Ratio/BOR) untuk Intensive Care Unit (ICU) dan ruang isolasi diatas 70 persen.

Dalam Inmendagri disebutkan juga seluruh Provinsi se Jawa- Bali memenuhi salah satu atau lebih unsur dari 4 (empat) parameter tersebut.
Ditambahkan Gubernur dapat menetapkan kabupaten/kota lain diwilayahnya dengan mempertimbangkan keempat parameter dan pertimbangan lain untuk memperkuat upaya pengendalian COVID 19.

“Pengaturan pemberlakuan pembatasan meliputi seluruh desa dan kelurahan pada Kabupaten/Kota yang telah ditetapkan sebagai prioritas wilayah pembatasan,” bunyi diktum kesebelas.

Selain pengaturan PPKM Mikro, bunyi diktum ketigabelas, Tito juga menginstruksikan agar pemerintah provinsi, kabupaten/kota sampai dengan pemerintah desa dan kelurahan lebih mengintensifkan disiplin protokol kesehatan dan upaya penanganan kesehatan (membagikan masker dan menggunakan masker yang baik dan benar, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak dan menghindari kerumunan yang berpotensi menimbulkan penularan).

Disamping itu juga memperkuat kemampuan tracking system dan manajemen tracing, perbailan treatment termasuk meningkatkan fasilitas kesehatan (tempat tidur, ruang ICU, maupun tempat isolasi/karantina), koordinasi antar daerah yang berdekatan melalui Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) untuk redistribusi pasien dan tenaga kesehatan sesuai dengan kewenangan masing – masing.

Pemberlakuan PPKM mulai berlaku tanggal 09 Februari 2021 sampai dengan tanggal 21 Februari 2021 dan mempertimbangkan berakhirnya masa berlaku pembatasan berdasarkan pencapaian target pada keempat parameter selama empat minggu berturut-turut, bunyi diktum keempatbelas.
Pada Kepala Daerah diinstruksikan agar melakukan monitoring dan rapat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) terkait secara berkala.

“Kepada gubernur, bupati dan walikota pada daerah yang tidak termasuk pemberlakuan pengaturan pembatasan tetap memperkuat dan meningkatkan sosialisasi dan penegakan hukum terhadap pelanggaran protokol covid 19,” tegas Tito.

Menutup instruksinya Tito mengatakan bahwa Inmendagri mulai berlaku pada tanggal 09 Februari 2021.
“Pada saat Instruksi Menteri ini mulai berlaku, instruksi Menteri No 02 Tahun 2021 tanggal 22 Januari 2021 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi,” pungkasnya. (HUMAS KEMENDAGRI/UN)

Pewarta: Rofil
Sumber: Humas Sekretariat Kabinet RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here