Warinussy: Rasisme Merupakan Akar Permasalahan

MANOKWARI – Negara Indonesia dan dunia semestinya memahami dengan sungguh bahwa rasisme yang terus-menerus terjadi terhadap anak-anak asli Papua seperti halnya Natalius Pigay sudah menjadi salah satu akar masalah dalam pola hubungan Jakarta – Papua selama lebih dari 50 tahun terakhir ini,”kata Yan Warinussy SH, (26/01).

“Saya ingin menunjukkan satu contoh sebagai ditulis oleh Greg Poulgrain dalam bukunya berjudul Bayang Bayang Intervensi, Perang Siasat John F.Kennedy dan Alllen Dulles atas Sukarno, disebutkan terkait hilangnya Michael Rockefeller, anak laki-laki Gubernur New York, Nelson Rockefeller yang berumur 23 tahun,”ujarnya.

Dia diduga hilang di wilayah pantai selatan Pulau Papua pada tanggal 18 November 1961, ketika dia sedang mengumpulkan barang artefak untuk museum bapaknya.

“Ketika itu media di seluruh dunia menulis bahwa orang-orang kanibal di Tanah Papua (Irian Barat) sudah memakan Michael Rockefeller, memakan dagingnya di pantai dengan sagu,” bebernya.

Warinussy menyebutkan bahwa tidak menemukan adanya investigasi yang memenuhi standar ilmiah dan teori hukum oleh pemerintah Indonesia maupun Amerika Serikat selama ini atas hilangnya Rockefeller junior tersebut.

Tapi “tuduhan” berbau rasis lanjutnya telah ditulis juga oleh Poulgrain dalam bukunya tersebut sebagai kematian yang disebabkan oleh kanibalisme, yang kemudian menjadi alat politik untuk menyangkal hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua kemudian.

Ini menjadi dampak politik dari kehilangan Rockefeller junior tersebut menjadi tragedi tetap bagi rakyat Papua.

“Padahal ada saksi mata bersama Rene Wassing, seorang antropolog Belanda dari Biro Urusan Pribumi di Hollandia yang sedang dalam perjalanan naik kapal di sepanjang garis pantai Selatan Papua,” ungkap Warinussy.

Mereka (Rockefeller junior dan Wassing) bersama 2 (dua) orang polisi Papua.

Wassing menjelaskan bahwa kapal dibangun dari 2 (dua) kano yang diikat. Rockefeller junior menambah sebuah papan rata di bagian atas perahu.

Kapal itu menggunakan mesin dari motor kecil. Setelah menyeberang muara Sungai Eilanden yang luasnya lebih dari 24 kilometer, kapal mereka itu terbalik dihantam arus sungai tersebut.

“Jadi kedua polisi Papua memutuskan berenang ke tepi sungai, sedangkan Rockefeller junior dan Wassing terapung sambil berpegang pada kapal yang terbalik itu ke arah laut Arafura,” jelasnya.

Wassing adalah orang yang tahu apa yang dilakukan Rockefeller junior saat “meninggalkan” kapan untuk berenang “menuju daratan” yang sangat jauh.

“Apa yang terjadi atas diri Rockefeller junior, tak ada seorang pun yang tahu hingga hari ini, karena ketiadaan investigasi, tapi stigma bahwa orang Papua Kanibal telah memakan daging tubuhnya menyebabkan hak membela diri orang Papua menjadi sirna hingga dewasa ini,” tandas Warinussy.

Menurut Warunussy Rasisme terus dipupuk dan terkadang muncul dalam bentuk sikap dan perbuatan seperti yang dilakukan saudara Nababan terhadap Pigay beberapa hari lalu.

Sehingga adalah sangat tidak adil jika hal ini tidak diproses secara hukum oleh Negara. Atau dilokalisir menjadi isu pribadi antara Pigay dan Nababan semata, sebab perbuatan Nababan sudah sangat bersinggungan dengan harga diri rakyat Papua asli secara total, termasuk saya dan saudara lainnya yang telah berbeda dengan suku Batak yang merupakan rumah budaya saudara Nababan dan komunitasnya,”pungkas Ya Warinussy.

Pewarta: RV

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here