Sepenggal Catatan Yan Christian Warinussy Buat Drs Ambroncius Nababan MM

MANOKWARI – Saya ingin mengetuk pintu hati Saudara Drs.Ambroncius Nababan, MM secara pribadi dan saudara se Tanah air Indonesia lainnya tentang keberagaman sebagai sesuatu yang menguatkan Kebhinekaan Bangsa Indonesia sejak dulu,” kata Yan Warinussy SH, (25/01).

Saya ingin memberi contoh dari pengalaman pribadi saya sebagai salah satu alumni Asrama Mahasiswa Sakura Universitas Cenderawasih (Uncen), Abepura-Jayapura sejak tahun 1984-1991.

“Di Asrama Sakura Uncen kami anak2 asli Papua dari Jayapura, Biak, Serui, Manokwari, Nabire, Merauke, Wamena, Fakfak, Kaimana, Sorong maupun Raja Ampat. Kami kala itu bisa hidup berdampingan, makan bersama bahkan tidur sama-sama dengan saudara-saudara kami mahasiswa dari suku Jawa, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Maluku bahkan Timor Timur,” tuturnya.

Bahkan pengalaman itu lanjut Warinussy membuat kami akrab dan terus berkomunikasi baik hingga saat ini.

“Terkadang kami berdebat dan saling protes, tapi tidak pernah kehilangan akal untuk merespon pandangan saudara atau senior atau junior kami dengan cara-cara rasis,” ujarnya

“Hasil nyata dari hubungan persaudaraan di Asrama Uncen adalah ada Prof.DR.Murphin Josua Sembiring, kini salah satu anggota perkumpulan Suku Karo Surabaya. Saya ingat ada Kaka kami bernama Dolly Tobing, dia asli Batak yang sangat baik dan selalu bergabung duduk hisap rokok, makan pinang bahkan menyanyi bersama kami adik-adiknya di Abepura ketika itu,” kenangnya.

“Saya juga punya seorang teman sesama anak asrama, kini Advokat terkenal di Kota Jayapura yaitu Advokat James Simanjuntak. Kami selalu saling menyapa dengan sebutan sobat. Juga Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Papua Janus Pangaribuan,” tandas Yan.

Pergaulan kami selama 30 an tahun lalu di Asrama memberi bobot kuat dalam kami mengarungi kehidupan profesi masing-masing tapi juga hubungan sosial kemasyarakatan yang begitu kuat dengan berbagai lapisan masyarakat di Tanah Papua bahkan Indonesia dan dunia,sebutnya.

“Sehingga emosional kami terjaga dan senantiasa bisa menghindari pernyataan, sikap dan tindakan bahkan perilaku yang bersifat rasis seperti yang saudara Nababan praktekkan kepada adik terkasih saya Natalius Pigay lewat postingan di media sosial facebook,” terangnya.

Mungkin benar bahwa Pigay sudah berulang kali mengalami hal seperti yang anda lakukan Pak Nababan.

“Tapi sikap dan cara anda menempatkan foto mantan Komisioner Komnas HAM tersebut dengan foto lain dan disertai kata-kata bernada rasis, itu jelas masuk kategori penghinaan menurut hukum,” jelasnya.

“Pasal 310 KItab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) kita maupun UU No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sudah memberi batasan hukum yang jelas,” lanjut Advokat senior Papua Barat.

“Demikian juga di dalam UU No.40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, sudah secara jelas menjadi patokan berperilaku dan bertindak di alam kemerdekaan Republik Indonesia,” bebernya.

Sehingga, timpa Warinussy, permohonan maaf anda di media sosial yang menurut pandangan sosilogis saya tidak tulus tersebut, kiranya tidak dengan serta merta akan “menghapus” terpaan hukum yang bakal anda jalani.

“Bahkan tidak membuat Presiden Joko Widodo bergeming untuk “menyingkirkan” anda dari barisan pendukungnya selama ini. Juga bisa menjadi tolok ukur bagi Partai dimana anda berkiprah di parlemen dan masyarakat bisa segera me-recall anda demi menjaga kebhinekaan yang terus menerus diperjuangkan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia,” katanya.

“Lagi pula sedang dimulai dengan baik oleh pasangan pemimpinan Negara Super Power Amerika Serikat melalui kabinet Presiden Joe Biden dan Wakilnya Kamala Harris beberapa hari terakhir ini,” tutup Warinussy. (RV)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here