LP3BH Manokwari Tindaklanjuti Laporan Berliana Dolok Saribu

TIFACENDERAWASIH.com, Manokwari – Sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, saya mengumumkan bahwa kami akan menindak-lanjuti laporan klien kami Berliana Dolok Saribu secara hukum di tahun 2021 mendatang.

Hal ini diungkap Yan Christian Warinussy, SH selaku Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari kepada media ini, 24,12.

“Sesuai laporan dan pengaduan yang kami terima bahwa klien kami tersebut telah mengalami penganiayaan berat dari oknum perwira polisi bernama Ajun Komisaris Polisi (AKP) Alexander Mody Hrhalatu, $H, MM,”terang Warinussy.

Penganiayaan berat tersebut diduga dialami klien kami sejak tanggal 14 Desember 2019 sekitar jam 07:00 wit di rumah terlapor pelaku di rumah kontrakannya di Kilo 12 Kota Sorong, Papua Barat,”kata Warinussy.

Jelas Warinussy, klien kami mengakui bahwa dia memiliki hubungan dekat dengan pelaku bahkan telah menjalin hubungan layaknya suami istri tanpa nikah sejak tahun 1998 di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan.

“Dari hubungan tersebut lahir seorang anak perempuan. Tapi selama menjalin hubungan tanpa nikah dengan terlapor pelaku, klien kami mengaku seringkali mendapatkan perlakuan dan tindakan kekerasan dari terlapor pelaku,”ungkapnya.

“Klien kami, Berliana Dolok Saribu juga mengakui bahwa dirinya telah dianiaya oleh terlapor pelaku AKP Alexander Mody Hehalatu sejak hari Sabtu tanggal 14 hingga Minggu, 22 Desember 2019 lalu. Kemudian klien kami bisa keluar rumah dan mencari pertolongan dari tetangga dan menghubungi orang tuanya di Bintuni,”papar Yan.

Atas kejadian tersebut, klien kami kemudian membuat laporan polisi di Polres Sorong Kota. Laporan klien kami tercatat Nomor : LP/1283/XII/2019/Papua Barat/Resor Sorong Kota, tanggal 24 Desember 2019, terkait perbuatan pidana penganiayaan sebagai dimaksud dalam pasal 351 KUH Pidana,”tuturnya.

Terlapor AKP Alexander Mody Hehalatu selanjutnya telah menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sorong Kelas I B dan dijatuhi pidana 8 (delapan) bulan penjara.

“Putusan hakim PN.Sorong tersebut sama sekali tidak memenuhi rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Utamanya klien kami selaku korban akan mengambil langkah hukum lebih lanjut secara bertanggung-jawab. Sehingga kami mohon agar Kapolda Papua Barat selaku atasan terlapor pelaku AKP Alexander Mody Hehalatu untuk ditindak dalam sidang kode etik anggota Polri yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini,”pungkas Warinussy.

(Richard)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here