Tanggapi Pernyataan Menko Polhukam, Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari Angkat Bicara

TIFACENDERAWASIH.com, MANOKWARI – Rakyat Papua di berbagai wilayah di Bumi Cenderawasih terus menggelorakan sikap menolak kebijakan otonomi khusus. Namun Pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD justru mengumumkan penambahan dana penerimaan khusus yang besarnya setara dengan 2 persen dari plafon Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional menjadi 2,5 persen.

Sehingga hal itu akan menjadi salah satu perubahan (revisi) terbatas dari isi pasal 34 ayat (3) huruf c, angka 2 dari UU RI Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.

Sebagaimana dirubah dalam UU RI Nomor 35 Tahun 2008 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas UU RI No.21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua Menjadi Undang Undang.

Menurut Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy SH sesuai dengan press realese yang diterima media ini (13/09), Langkah Pemerintah Indonesia menurut pemahaman hukum saya sangat bertolak belakang dengan jiwa dan semangat dari UU Otsus Papua itu sendiri.

“Hal ini bertolak belakang denga jiwa dan semangat dari Otsus itu sendiri. Mengapa demikian? Karena pemerintah Indonesia tidak mampu merespon secara positif keinginan rakyat Papua yang menolak pemberlakukan kebijakan otonomi khusus dan justru mendesak dilakukannya referendum.

Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi gagal membangun sebuah dialog damai dengan rakyat Papua, Padahal dialog damai sesungguhnya merupakan sarana yang efektif untuk mempertemukan rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia dalam membahas perbedaan pendapat, pandangan dan pemahaman di dalam konteks mencari solusi damai di dalam sebuah negara demokrasi, “papar Yan.

Lanjutnya, Penambahan prosentase Penerimaan khusus dalam rangka Otsus di Tanah Papua dari 2 persen menjadi 2,5 persen setara DAU Nasional.
“Menurut saya bakal membawa dampak signifikan bagi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan keamanan domestik di Tanah Papua dalam masa mendatang. Ini berkaca dari pengalaman yang lalu, karena setelah adanya kucuran dana Otsus setara 2 persen DAU Nasional di awal tahun 2002, maka pertumbuhan penduduk kian meningkat, karena migrasi spontan dari luar Papua ke Bumi Cenderawasih kian meningkat signifikan, Namun sangat disayangkan karena kendatipun ada pertumbuhan ekonomi, tapi tidak terjadi keberpihakan dan pemberdayaan bagi rakyat Papua, “jelasnya.

“Ini disebabkan karena mayoritas migrasi yang datang dari luar Papua bukan merupakan kelompok pemodal (kapital) yang mampu melakukan kegiatan penanaman modal dan pembukaan lapangan kerja baru. Malahan modal yang sesungguhnya ada untuk peningkatan kesejahteraan rakyat Papua menjadi terserap oleh kehadiran para migran tersebut, Akibatnya pertambahan angka kemiskinan di Tanah Papua kian terus meningkat, “ujarnya.

“Kebanyakan pemerintah daerah Kabupatan – Kota dan kedua provinsi yang ada belum mampu mengembangkan sumber-sumber pendapatan asli daerah, karena lebih dari 40 persen sumber penambahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) nya masih berasal dari pemerintah pusat di Jakarta, “Bebernya.

“Saya melihat Prof.Mahfud MD justru membohongi rakyat Indonesia umumnya dan rakyat Papua khususnya bahwa rencana pemekaran Tanah Papua ke depan menjadi 5 (lima) provinsi dengan penambahan 3 (tiga) provinsi baru adalah amanat UU Otsus, hali Ini tentunya “Bohong besar”, karena di dalam amanat pasal 76 bukan mengamanatkan seperti maksud Menko Polhukam RI tersebut. Justru pasal 76 menyebutkan tentang prosedur dan mekanisme pelaksanaan pemekaran provinsi Papua dan Papua Barat yang mesti dilakukan atas persetujuan MRP dan MRPB serta DPRP dan DPR PB, “paparnya.

“Maka pertanyaannya sekarang, apakah rencana pemekaran 3 (tiga) provinsi baru yang dikatakan oleh Mahfud MD tersebut sudah memperoleh persetujuan dari MRP, MRPB, DPRP dan DPRPB? Sebab persetujuan lembaga-lembaga terhormat tersebut hanya dapat dilakukan setelah memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesatuan sosial-budaya, kesiapan sumber daya manusia dan kemampuan ekonomi dan perkembangan di masa mendatang, “terang yan.

“Dengan demikian, maka saya ingin mengingatkan para pimpinan dan anggota MRP, MRPB, DPRP dan DPR PB untuk secara jujur dan terbuka melakukan tatap muka dengan rakyat Papua, guna memberi jawaban, apakah benar keempat lembaga terhormat dan mulia yang dibentuk karena adanya kebijakan Otsus telah memberi persetujuan mengenai rencana pemekaran 3 (tiga) provinsi baru di tanah Papua nantinya..?, “Tandas Warinussy dengan penuh tanda tanya.

Pewarta : Richard.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here