Banjir..! Kemarin di Sima dan Iwaka Sekarang Mudetadi, Masyarakat : Ini Ulah Galian C dan Penebangan Liar

TC Nabire – Kepala Suku Besar Yerisiam, Daniel Yarawobi, mengatakan banjir besar terjadi tahun 2016 lalu, kemudian terulang Februari 2019. ‘’Pengalaman banjir tahun 2016 seharusnya menjadi cermin pemerintah dan instansi terkait mencari solusi mengatasi masalah banjir di Kampung Sima.

Seperti yang di langsir oleh https://pospapua.com/jadi-langganan-banjir-warga-minta-normalisasi-sungai-di-sima/,

Yarawobi juga mengatakan, sebelum 2016, Kampung Sima hanya sekali mengalami banjir pada tahun 1982, setelah itu tidak pernah terjadi hingga 2016, dan sejak itu Kampung Sima menjadi langganan banjir. ‘’Tergenangnya rumah warga beberapa tahun terakhir terindikasi akibat laju deforestasi oleh proyek perkebunan sawit PT. Nabire Baru, karena masa-masa sebelumnya fenomena alam ini tak pernah terjadi sejak terakhir tahun 1982.
Pada tanggal 6 Agustus 2019, Banjir di Sungai Wakonapoka, merendam kampung Iwaka, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, beberapa hari lalu, merendam sebanyak 200 lebih rumah warga yang dihuni oleh 176 KK dengan jumlah penduduk 963 jiwa.

Akibat putusnya jembatan darurat tersebut membuat RT 5 hingga RT 8 terisolasi, tetapi warga menggunakan perahu untuk melintasi jembatan yang putus.

Kepala Distrik Iwaka, Wens Mitoro menjelaskan musibah banjir yang menimpa Kampung Iwaka ini memang sering terjadi, Namun tidak seperti sekarang, yang ketinggian airnya mencapai satu meter, tentunya kondisi ini dikeluhkan oleh masyarakat seperti yang dilangsir oleh https://www.harianpapuanews.com/metro-mimika/kadistrik-iwaka-banjir-di-iwaka-diduga-akibat-penebangan-hutan-dan-galian-c/,

Mitoro mengungkapkan, bahwa musibah banjir yang terjadi sekarang ini diduga disebabkan oleh adanya PT. PAL yang membuka lahan, penebangan hutan, dan pengerukan pasir di sungai atau galian C.

“Karena perbuatan itulah, sehingga penyerapan air tidak maksimal, yang akhirnya saat terjadi banjir deras, maka menyebabkan air sungai meluap dan mengenangi rumah warga. dan kalau melakukan suatu kegiatan maka harus direncanakan dengan baik, Atau minimal harus ada studi lingkungan yang dilakukan dan dampak apa apabila kegiatan itu dilakukan, beberapa hari lalu didekat areal PT PAL Timika, kampung mudetadi, kabupaten Deiyai terendam, diakibatkan oleh Banjir pada tanggal 11 Juli 2020 dan pada tanggal 25 Juli 2020.

“Maka itu, kami meminta kepada pemerintah agar Pemerintah mendesak Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit untuk bertanggung Jawab atas banjir yang mengorbankan lingkungan dan harta benda masyarakat, Pemerintah segerah melakukan normalisasi sungai di Sima Kabupaten Nabire dan Kampung Iwaka, Distrik Iwaka dan mudetadi, kabupaten Deiyai, Pemprov Papua diminta segera melakukan evaluasi perijinan dan kegiatan perkebunan sawit di Papua.

“Namun untuk saat ini, Masyarakat mudetadi yang berada di ruas jalan Timika ke Deiyai memerlukan bantuan Bama dan rumah bagi masyarakat.

(Red)
Sumber: John NR Gobai
Dewan Adat Papua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here